Polisi Dianggap Lakukan Diskriminasi Ekspresi Demokrasi

0 434

JAKARTA, Buletininews.com — Terkait penangkapan 2 orang Aktivis Hak Azazi Manusia (Ham) yang juga manatan Jurnalis yakni Dandhy Dwi Laksono (masih ditahan) dan Ananda Badudu yang kini telah dibebaskan oleh Kepolisian Metro Jaya. Polisi dianggap telah melakukan diskriminasi ekspresi demokrasi.

Demikian disampaikan Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Korpolkam) Fadli Zon menyayangkan adanya kriminalisasi ekspresi melalui demonstrasi, karena itu merupakan hak yang dijamin oleh konstitusi dan melekat pada setiap warga negara, termasuk para aktivis.

“Polisi dalam hal ini keterlaluan dan ini diskriminasi, karena mereka ditangkap bukan dipanggil. Terlepas pada ahirnya sudah ada yang dibebaskan atau hanya sebatas menjalani proses pemeriksaan sebagai saksi,” tegas Fadli Zon, jumat (27/9) usai menghadiri launcing buku Fahri Hamzah di Senayang DPR RI.

Sebagai mantan aktivis 1998, Fadli menilai gerakan aksi demonstrasi mahasiswa sebagai siklus 20 tahunan. Menanggapi sikap Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari sejumlah perguruan tinggi, yang tidak memenuhi undangan dari Presiden Joko Widodo, ia menilai hal tesebut sebagai hal yang wajar dan meyakini bahwa mereka tentu sudah memiliki perhitungannya tersendiri.

Sebelumnya Polda Metro Jaya, Kamis (26/9) pukul 22.30Wib menangkap Dandhy Dwi Laksono di rumahnya. 

Polisi melakukan pemeriksaan terhadap Dandhy terkait unggahannya di media sosial mengenai isu kekerasan di Papua. Dandhy pun ditetapkan sebagai tersangka.

Lalu Polisi kembali melakukan penangkapan terhadap Ananda Badudu pada Jumat (27/9) sekitar pukul 07.40Wib di rumahnya. Terkait penggalangan dana dilakukan Ananda lewat situs ‘Kita Bisa’ untuk demonstrasi mahasiswa di Gedung DPR pada 24 September 2019 kemarin. Setelah menjalani proses pemeriksaan sebagai saksi ahirnya Polisi membebaskan Ananda pukul 11.00Wib siang tadi.***(Edison)

Leave A Reply

Your email address will not be published.