Pelalawan Siapkan SDM Handal Malalui ST2KSI

0 512

PELALAWAN, Buletininews.com — Kawasan Teknopolitan Pelalawan merupakan salah satu Teknopark terluas di Indonesia (3.750 Ha), kawasan ini merupakan sebuah komplek yang memiliki lembaga riset, perguruan tinggi dan industri membina hubungan bersinergi untuk menciptakan, menghasilkan dan mengembangkan usaha-usaha produktif berbasis pengetahuan.

Tujuan awal dibangunnya kawasan ini adalah untuk mendorong pengembangan ekonomi dan daya saing daerah melalui penciptaan peluang bagi usaha baru, yang inovatif dan mampu bersaing baik skala nasional maupun internasional.

Dalam hal ini, dibawah kepemimpinan HM Harris, segala hal dilakukan untuk mencapai Pelalawan Emas 2020, khusus untuk Teknopolitan, Bupati telah menggalang semua pihak baik pemerintah pusat dan daerah serta seluruh industri yang berada di Kabupaten Pelalawan.

Berada dalam kawasan Techno Park Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau, Sekolah Tinggi Teknologi Kelapa Sawit Indonesia (ST2KSI) memiliki komitmen dalam mencetak generasi emas dalam menghadapi persaingan global.

Diresmikan pada 6 Januari 2019 oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI Luhut Binsar Panjaitan, ST2KSI sebelumnya adalah Sekolah Tinggi Teknologi Pelalawan (ST2P) yang diresmikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  RI Muhajir Effendi pada 14 Maret 2018.

ST2KSI merupakan Perguruan Tinggi di kawasan Teknopolitan Kabupaten Pelalawan yang akan menjadi ujung tombak serta corong dalam mendompleng pertumbuhan dan perkembangan kawasan Teknopolitan ini nantinya.

Kerjasama Semua Pihak

Dalam pengembangan kawasan Techno Park Pelalawan, ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi, Bupati Pelalawan HM. Harris lakukan kerjasama dengan semua pihak, salah satunya pada awal tahun lalu bersama Rektor ITB yang disaksikan langsung oleh Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

Penandatanganan yang dilakukan di Kampus Ganesha ITB Bandung itu juga diiringi dengan penandatanganan Nota Kesepahaman Kerjasama antara ITB dengan ST2KSI dalam hal teknologi.

Belakangan diketahui MoU ini merupakan bagian dari kebutuhan dukungan teknologi pada Rencana Pembangunan Pabrik Kelapa Sawit Koperasi Petani Swadaya dengan sistem BOT (Built Operate and Transfer) oleh PT. Pindad Persero, di Kawasan Techno Park Pelalawan. 

Kepala Badan Perencanan Pembangunan Derah (Bappeda) Kabupaten Pelalawan, M. Syahrul Syarif menyebutkan saat ini ITB sedang mengembangkan katalis yang akan mengubah minyak sawit menjadi bahan bakar minyak (BBM). Katalis yang dikembangkan oleh Prof. Subagyo merupakan faktor penting mengubah minyak sawit menjadi BBM. 

Dalam kesempatan yang sama HM Harris dan Menko Kemaritiman sengaja mengunjungi Laboratorium Katalis ITB dalam rangka memastikan kesiapan teknologi konversi minyak sawit menjadi gasoline, premium, pertamax dan bahkan avtur. 

Selain melakukan kerjasama dengan ITB, ST2KSI juga terus mengembangkan sayap dengan cara melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi dari luar negeri seperti Rajamangala University of Technology Krungthep, Thailand, Tarlac Agriculture University, Philippines,  Moscow City University, Rusia dan Institute of Business, Timur Lestew.

MoU tersebut adalah memiliki kebanggan tersendiri khususnya bagi Kabupaten Pelalawan karena menjadi bagian dari kerjasama pendidikan perguruan tinggi di bidang industri era 4.0 yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mencetak generasi emas Pelalawan dalam menghadapi persaingan global 2025 dalam mendukung Program Nasional.

Ketua ST2KSI Pelalawan Prof.DR.H.Detri Karya menjelaskan bahwa kerjasama dengan PT luar negeri itu merupakan salah satu persiapan ST2KSI Pelalawan untuk menjadi perguruan tinggi kelas dunia, terutama di bidang persawitan.

Mantan Rektor Universitas Islam Riau ini juga menambahkan bahwa penandatangan Mou di laksanakan dalam rangkaian kegiatan  International Symposium, Global Summit of University Leaders dengan tema Managing higher education in the industrial Era 4.0 west and East experiences di  Universitas Islam Malang beberapa waktu yang lalu.

Meski baru berdiri, namun ST2KSI sudah bisa duduk sejajar dengan perguruan tinggi lainnya, sebab dalam kegiatan MoU bersama PT Luar Negeri ini turut dihadiri Menteri Pendidikan RI dan Direktirat Jenderal Pendidikan Agama Perguruan Tinggi, 14 Pimpinan Universitas Luar Negeri, selain itu juga ada 80 Pimpinan Perguruan Tinggi Dalam Negeri.

Aplikasi Triple Helix Model

Semakin eratnya pola relasi antara perguruan tinggi, pemerintah dan dunia industri membuat Leydesdorff dan Etzkowitz (2001), menyebutnya sebagai Triple Helix model. Menurut Leydesdorff dan Etzkowitz (2001), munculnya Triple Helix model disebabkan beberapa perkembangan dunia yang terjadi secara bersamaan.

Pertama, interkoneksi yang semakin kuat antara institusi penghasil pengetahuan dan para pengguna pengetahuan. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya para industriawan dan ilmuwan bekerja sama melakukan prioritas penelitian yang akan dilakukan. Sehingga terjadilah transfer pengetahuan dan teknologi sebagai hasil produksi pengetahuan dari para ilmuwan yang bekerja di perguruan tinggi ke industri.

Kedua, semakin masifnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi seperti internet, metamorfosa komputer kotak ke komputer jinjing (laptop) dan telephone genggam ke handphone, membuat pengetahuan mudah diperoleh dari sumber manapun.

Ketiga, cepatnya tumbuh kembangnya teknologi informasi dan komunikasi memiliki konsekuensi logisnya terjadinya perubahan bentuk koordinasi antara perguruan tinggi, pemerintah dan industri dari vertikal ke lateral yang memangkas rumitnya birokrasi, sehingga seiring waktu sinergi ketiganya (Perguruan Tinggi-Pemerintah-Industri) semakin padu. 

Pola atau sistem ditaja Bappeda Kabupaten Pelalawan itu merupakan realisasi dari bentuk hubungan yang sangat sinergis antara pemerintah, ST2KSI dan industri. Keberadaan staf ahli teknopolitan, PPKS, SKPD terkait, dan ST2KSI merupakan kemasan yang sangat tepat memulai semua rencana dan mengaplikasikannya segera.

Menurut Syahrul Syarief, hubungan antara ST2KSI, Pemkab Pelalawan dan industri terus bersinergi untuk dapat mengaplikasikan bentuk hubungan Triple Helix model sehingga pertumbuhan dan pengembangan kawasan Teknopolitan dapat terlaksana seperti yang direncanakan. 

Kerjasama yang diperkuat melalui MoU yang diberikan oleh pemerintah dalam memfasilitasi menjadi kekuatan bagi ST2KSI untuk bergerak lebih cepat. Ditambah lagi dengan arahan Bupati HM Harris dan SKPD terkait terhadap perusahaan agar memberikan beasiswa, magang, bantuan penelitian pada dosen dan mahasiswa.

Disisi lain, sebagai perguruan tinggi baru, ST2KSI tidak bisa hanya mengharapkan bantuan dana hibah yang diterima melalui Yayasan Amanah Pelalawan (YAP) saja. ST2KSI masih membutuhkan pendanaan yang tidak ada dialokasikan di bantuan hibah tersebut. 

Saat ini Pemerintah Kabupaten Pelalawan juga memberikan bantuan beasiswa kepada mahasiswa yang kurang mampu. Namun diharapkan bantuan beasiswa dari setiap perusahaan dalam Tahun Ajaran 2017/2018 dapat terealisasi.Bantuan Penelitian dan Penelitian bersama.

Banyak proposal penelitian dosen ST2KSI saat ini masih menunggu dukungan dana dari berbagai industri, terutama perusahaan di Kabupaten Pelalawan khususnya. ST2KSI dengan visi sebagai pusat penelitian kelapa sawit dunia selalu mengacu pada penelitian yang berbasis kelapa sawit.

Dukungan dan bantuan penelitian yang saat ini baru diterima berasal dari Balitbangda Kabupaten Pelalawan. Kendati demikian, beberapa perusahaan yang memberikan dukungan dengan memfasilitasi dosen dan mahasiswa ST2P dalam kegiatan magang dan kuliah lapangan sangat membantu penguatan ilmu dan pengalaman mahasiswa sebagai aplikator masa depan. 

Selanjutnya dukungan dari para ahli yang ada di lapangan akan memberikan warna yang berbeda karena apa yang mereka sampaikan, akan menjadi pengalaman real bagi mahasiswa sebelum pelaksanaan magang dan masuk di lingkungan masyarakat.(Adv)

Leave A Reply

Your email address will not be published.