PEKANBARU, Buletininews.com — Persoalan terorisme sampai saat ini menjadi masalah sangat kompleks sehingga upaya pencegahannya pun tidak sederhana. Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang dibentuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kamis, (22/8) di Pekanbaru mengadakan sosialisasi Perempuan Agen Perdamaian Dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme.
Acara yang di hadiri ketua PR LAMR, Datin Hj. Nuraini, Organisasi Perangkat Daerah di Lingkungan Provinsi Riau, Perwakilan Perempuan Lintas Agama, Pimpinan Organisasi Wanita, Perkumpulan di Lingkungan TNI/Polri.
Dalam paparaya, Dulu perempuan hanya menjadi faktor simpatisan dan pendukung, tetapi saat ini mereka turut mengambil andil sebagai pelaku teroris.
“Di Sri Langka banyak pria yang tewas karena peperangan, yang tersisa adalah para wanita dan anak. Sehingga para wanita dan anak pun turut dikerahkan untuk menjadi teroris. Ternyata kecenderungan ini pun turut menyebar ke seluruh dunia,” ujar Suaib Tahir Anggota divisi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), saat menjadi narasumber kegiatan ‘Pelibatan Perempuan sebagai Agen Perdamaian dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme’ di Pekanbaru, Kamis (22/8).
Lebih lanjut dirinya menjelaskan pola pemanfaatan perempuan dalam aksi ini bagian dari kelompok teror mengeksploitasi perempuan sebagai martir baru. Semakin kurangnya kader dan anggota memaksa mereka untuk mendorong perempuan agar tampil sebagai pelaku aksi.
Karena itulah, Ia meminta perempuan menjadi agen perdamaian yang secara aktif memberikan pencerahan dan pendidikan baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat secara luas. Keterlibatan perempuan mempunyai peran strategis karena menjadi tumpuan pendidikan anak di keluarga maupun melalui komunitas perkumpulan perempuan.
Dirinya juga menambahkan di lingkungan sosial kita saat ini sudah banyak sekali sebaran narasi bernuansa sentimen dan kebencian berbasis perbedaan agama yang berpotensi memecahbelah masyarakat. Narasi ini sebenarnya dikembangkan sebagai bagian dari upaya meradikalisasi masyarakat. Perpecahan dan konflik pada akhirnya merupakan ladang subur berkembangnya paham dan jaringan terorisme.
Narasi lainnya yang patut diwaspadai, menurut jenderal bintang satu ini adalah narasi emosi keagamaan dengan mengimpor konflik di negara lain sebagai alasan untuk perjuangan. Penderitaan yang terjadi di Timur Tengah seperti Syria, Irak dan lainnya dijadikan propaganda untuk mengajak dan merekrut anggota di dalam negeri yang tidak mengerti peta konflik yang sebenarnya.
“Patut dipahami bahwa seseorang menjadi teroris bukan proses yang instan, tetapi melalui tahapan dari mengadopasi narasi-narasi intoleran, radikalisme dan terakhir menuju terorisme,” ungkapnya.
Dirinya berharap perempuan harus menjadi bagian penting dalam menangkal narasi-narasi tersebut, bukan justru menjadi korban narasi kekerasan dan teror. Apalagi sebaran narasi radikalisme itu saat ini tidak hanya terjadi secara offline, tetapi yang lebih mengkhawatirkan narasi radikalisme yang bertebaran di dunia maya.(Anin)