Pekanbaru, Buletininews.com — Komisi II DPRD Riau memanggil Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau untuk dimintai keterangan terkait proges distribusi hibah ternak sapi yang sudah dinantikan programnya oleh masyarakat.
Ketua Komisi II DPRD Riau Robin P Hutagalung saat rapat dengar pendapat (RDP) di Pekanbaru, Rabu meminta penjelasan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Riau Herman. Robin pertanyakan apa yang menjadi kendala sehingga bantuan sapi sebanyak 1.800 ekor itu belum juga direalisasikan kepada masyarakat.
“Kami ingin tahu sebenarnya, apa kendalanya? Kenapa sapi ini belum disalurkan ke masyarakat? Apa saja progres yang sudah berjalan? Kami ingin dapat gambaran kondisi di lapangan seperti apa. Kita tidak ingin program ini terkendala lagi. Masyarakat sudah tiga tahun menanti,” tanya Robin.
Menanggapi pertanyaan legislator, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Riau Herman mengatakan penyaluran sapi kepada penerima manfaat sedikit terhambat karena adanya wabah penyakit. Ada delapan kabupaten/kota di Riau yang sapi ternaknya teridentifikasi terkena penyakit kulit sapi berbenjol atau Lumpy Skin Desease (LSD) yang saat ini sedang mewabah.
Kata dia, demi mencegah penyebaran wabah penyakit LSD ini agar tidak meluas, maka pihaknya untuk saat ini belum bisa menyalurkan hibah sapi ternak yang didatangkan dari luar daerah ke 8 kabupaten/kota tersebut. Namun, untuk kabupaten/kota yang tidak terkontaminasi wabah LSD ini, pihaknya secepatnya akan menyalurkan.
“Untuk pengadaan hibah sapi masyarakat yang 1800 ekor itu, ada 8 kabupaten yang terkena wabah. Termasuk Indragiri Hilir, sapi yang teserang penyakit ini menurut informasi datang dari luar negeri. Kampar juga kena, termasuk Pelalawan. Sementara untuk Rokan Hilir, Kuansing, Pekanbaru dan Kepulauan Meranti tidak kena. Tahap awal kita salurkan untuk kabupaten yang tidak terkena wabah,” kata Herman.
Dikatannya, pada tahab awal didistribusikan dulu sebanyak 30 persen dari total bantuan 1.800, yakni 580 ekor sapi. Tapi kendala lainnya, 580 ekor sapi bantuan ini pun masih tertahan di Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Bangkalan, Jawa Timur (Jatim).
“Yang 580 ekor ini masih ditahan di Stasiun Karantina Bengkalan, Jatim. Karena sapi-sapi ini kurang cocok dengan angin laut (posisi stasiun karantina dekat dengan laut) sudah enam ekor yang mati. Tentu kita sangat sayangkan sekali kita berharap agar bantuan sapi ini segera dikirimkan ke Riau. Apalagi biaya untuk pakan ternaknya cukup besar, Rp20 juta sehari. Ini sudah hari ke sembilan, biayanya ditanggung oleh pihak rekanan,” kata Herman.
Sisanya, delapan kabupaten/kota lainnya akan disalurkan setelah sapi-sapi yang ada di wilayah setempat mendapat dosis vaksin untuk membentuk kekebalan tubuh sehingga kebal dari penyakit.
“Jadi di 8 kabupaten/kota ini kita sudah salurkan vaksin sebanyak 7.000 dosis yang dikirimkan dari Mesir. Vaksin ini merupakan bantuan dari Australa. Dengan asumsi agar sapi-sapi di daerah terbentuk kekebalan imunnya. Ini butuh waktu 28 hari. Jadi setelah itu baru bisa kita distribusikan bantuan sapi yang sisanya itu,” sebutnya.
Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Riau Manahara Napitupulu yang membidangi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau, meminta Pemprov mendahulukan pengiriman bantuan ke empat Kabupaten Kota yang bebas dari penularan penyakit kulit sapi berbenjol atau lumpy skin disease (LSD).
Hal ini dilakukan guna mempercepat penyaluran bantuan hibah yang telah lama dinantikan oleh masyarakat yang sempat tertunda beberapa tahun belakangan ini.
Sebagai informasi, Empat Kabupaten Kota yang tidak terdampak wabah lumpy skin disease (LSD) tersebut yakni, Kota Pekanbaru, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Kabupaten Meranti dan Kabupaten Kuantan Singingi.
Manahara Napitupulu mengatakan, Saat ini sapi-sapi tersebut masih tertahan di daerah asal pengadaan di Badan Karantina Pertanian, Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Bangkalan, Jawa Timur.
“Saat rapat dengar pendapat dengan Dinas Peternakan Riau kemarin, kami mewanti-wanti jangan sampai sapi pengadaan tersebut terpapar LSD juga. Untuk itu lakukan tindakan vaksinasi supaya sapi-sapi itu benar-benar kebal dari LSD,” kata Manahara kepada awak media.
Selain itu, Manahara mengingatkan rekanan agar dapat merealisasikan pengadaan sekitar 1.800 sapi bantuan itu dalam waktu dua bulan.
“Kita juga mengerti bahwa rekanan akan terbebani pakan ternak yang cukup besar setiap hari. Sungguhpun dalam regulasi kontrak itu tanggung jawab mereka tapi kita ada tenggang rasa juga. Jadi hendaknya secepat mungkin sapi itu dikirim ke alamat,” imbuhnya.
Sementara itu, dalam RDP yang dilakukan Komisi II beberapa waktu lalu, Plh Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Pekanbaru Apep mengungkapkan, sesuai dengan aturannya lalu lintas pengiriman sapi di daerah yang terserang wabah tidak diperbolehkan. Itulah alasan mengapa bantuan sapi ini masih belum diberangkatkan dari Bengkala, Jawa timur.
“Kami juga sudah proaktif, berkomunikasi dengan pusat agar ini dicarikan jalan keluarnya. Kami juga menunggu adanya instruksi dari pusat untuk pemberangkatan bantuan sapi ini ke Riau,” kata dia.
Sebagai mana diketahui,Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Riau sendiri saat ini tengah melakukan vaksinasi ratusan sapi di delapan daerah yang yang terjangkit LSD. Penyuntikan vaksin ditargetkan sebanyak 100.000 ekor sapi dapat selesai dalam tahun ini. (Galeri)